Showing posts with label indonesia. Show all posts
Showing posts with label indonesia. Show all posts
Monday, December 12, 2016
Orang Indonesia di Balik Game Assassins Creed
Orang Indonesia di Balik Game Assassins Creed
KOMPAS.com Seri video game Assassins Creed dari Ubisoft yang kini telah mencapai judul kelima (Assassins Creed III) dikenal sebagai permainan yang menyajikan gameplay terbuka di tengah tempat-tempat historis yang tervisualisasi dengan indah.
Dalam seri game ini pemain menjelajahi lokasi-lokasi bersejarah, seperti kota Istanbul pada zaman Ottoman, Roma dalam masa Renaissance, serta Amerika Serikat sewaktu dilanda perang saudara. Semuanya ditampilkan dengan detail lingkungan dan arsitektur yang akurat sesuai era masing-masing.
Untuk mewujudkan itu semua diperlukan kerja keras yang tidak sedikit, mulai dari riset sejarah, kunjungan ke lokasi yang sesungguhnya, hingga proses pengembangan lingkungan dalam game. Nah, di sinilah Richard Wych Bharata Setiawan, seorang kelahiran Indonesia, memainkan peranannya.
Lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Trisakti ini menjabat sebagai Level Artist di studio besar Ubisoft di Montreal, Kanada.
Sebagai perancang lingkungan game, Richard terlibat dalam pembuatan sejumlah game dalam seri Assassins Creed, termasuk Brotherhood dan Revelations yang merupakan ekspansi dari judul Assassins Creed II. Dia juga turut menangani proses desain dalam seri game populer lain bikinan Ubisoft, yaitu Prince of Persia.
Dari lokal ke mancanegara
Richard tidak serta-merta melompat ke Kanada begitu lulus kuliah. Pria yang akan segera menikah dalam waktu dekat ini mengawali kariernya sebagai desainer grafis di Forhet pada 2005. Lebih kurang setahun kemudian, dia bergabung dengan Matahari Studiossebuah pengembang game lokalsebagai special effects artist.
"Kebetulan, saya lalu dapat informasi bahwa Ubisoft akan membuka studio di Asia Tenggara," ujar pria yang mengaku belajar mendesain obyek-obyek dalam game secara otodidak ini.
Salah satu setting lokasi di game Assassins Creed III
Jadilah Richard mengajukan lamaran sebagai special effects artist. Tetapi, posisi yang diinginkannya itu ternyata tidak tersedia. Richard lantas nyemplung sebagai level artist danmodeller di Ubisoft Singapura pada tahun 2008 silam. Dia adalah salah satu dari dua orang Indonesia yang tergabung dalam tim awal studio Ubisoft Singapura yang berjumlah 25 orang.
"Ketika itu ada kejadian lucu di mana saya diminta mengisi form pekerjaan. Saya diberikan laptop, tetapi keyboardnya menggunakan bahasa Perancis. Lama sekali saya mengisinya karena harus mencari huruf yang tepat satu per satu, ha-ha-ha," ujar Richard sambil tergelak ketika mengenang pengalamannya tersebut. Maklum, Ubisoft adalah perusahaan asal Perancis. Rupanya mereka lupa membawa peralatan yang cocok untuk kawasan Asia Tenggara.
Tiga tahun bekerja di Singapura, Richard lantas pindah ke studio utama Ubisoft di Montreal, Kanada, di mana dia bermukim hingga kini.
Pengalaman Richard menggunakan keyboard berbahasa Perancis berlanjut dalam bentuk yang berbeda di Montreal karena bahasa Perancis adalah bahasa utama di kota itu. Richard pun makin getol belajar bahasa Perancis. "Sekarang sudah tidak kaku lagi berbahasa Perancis meskipun masih harus banyak belajar," ujarnya.
Pekerjaan kolosal
Melihat tampilan dunia dalam seri game Assassins Creed yang luas dan begitu mendetail, dapat dibayangkan bahwa pembuatnya pastilah bekerja keras untuk merealisasikan lingkungan game dari gambaran konsep yang ditetapkan sebelumnya.
Di studio Ubisoft, sebagian besar tanggung jawab ini berada di pundak art director yang memberikan arahan seputar rancangan game pada sejumlah sub-bagian, termasuk character design dan level designer yang menjadi atasan Richard.
"Kalau diumpamakan, level designer membuat mangkuk lingkungan dunia game berikut level box yang mewakili obyek-obyek dalam dunia game. Level artist seperti saya kemudian mewujudkan dunia itu sesuai arahan," jelas Richard mengenai bidang pekerjaannya.
Dari situ, Richard bersama tim level artist memikirkan kira-kira arsitektur seperti apa yang sesuai dengan setting game, lalu bekerja membuat obyek-obyek dan lingkungan dalam game berdasarkan referensi yang didapat berikut limitasi interaksi dalam game yang ditetapkan olehprogrammer.
Kadang proses ini bisa membuat pusing tujuh keliling. Richard memberi contoh salah satu level dalam game Assassins Creed: Brotherhood yang menampilkan reruntuhan Colosseum di Roma, Italia, lengkap dengan ruang-ruang bawah tanahnya.
Colosseum dalam game Assassins Creed: Brotherhood
"Kami harus membuat Colosseum sesuai dengan keadaannya pada abad ke-15, tahun 1400-an, sementara gambar-gambar referensi yang tersedia hanya dari tahun 2000-an," ungkap Richard. Kendati demikian, nyatanya di tengah keterbatasan itu tim pengembang Ubisoft tetap berhasil memvisualisasikan desain Colosseum yang megah.
Ketika itu, Richard antara lain bertanggung jawab membuat setting dungeon atau ruang tahanan bawah tanah di Colosseum yang juga dipakai sebagai arena kejar-kejaran menggunakan kuda di dalam game. "Proses pembuatannya lama sekali, tapi ketika dimainkan dalam game, lima menit saja level-nya sudah lewat, ha-ha-ha," ucap Richard.
Dalam proses pembuatan game, Ubisoft menerapkan sistem milestone atau target pencapaian dalam kurun waktu tertentu. Jika sudah dekat waktu deadline, Richard kerap lembur demi merampungkan pekerjaan.
Tantangan dalam melakukan proses desain lingkungan game itu pun selalu mengalami eskalasi dari judul ke judul. Menurut Richard, ini karena Ubisoft selalu meminta rancangan yang lebih detail untuk game berikutnya. "Pengerjaan dari Assassins Creed II ke Brotherhood lalu setelah itu ke Revelations, misalnya, selalu harus disertai dengan peningkatan kualitas sehingga kami harus bekerja lebih giat lagi."
Saat semuanya sudah selesai, dunia game kemudian digabungkan dengan bagian-bagian lainnya, seperti karakter game hasil rancangan character artist dan fashion designer yang juga dibuat berdasarkan referensi faktual.
Hasil karya Richard bisa dilihat di serangkaian judul game dalam seri populer ini, mulai dariAssassins Creed II, Assassins Creed: Brotherhood, Assassins Creed: Revelations, hingga yangterbaru Assassins Creed III, yang tersedia untuk platform PC dan konsol game, seperti Xbox 360 dan PlayStation 3.
Gerilya
Richard mengaku menikmati bekerja di studio terbesar Ubisoft di Montreal. "Suasananya cair, kekeluargaan. Semua karyawan, misalnya, makan siang bersama tanpa memandang posisi atau jabatan."
Meski begitu, pria yang mengaku suka main game untuk melihat-lihat desain lingkungannya dan mencari inspirasi ini masih menyempatkan diri pulang ke Tanah Air dengan memanfaatkan waktu senggang antarpembuatan judul game.
"Kebetulan, sekarang lagi in-between, jadi bisa pulang ke rumah," ujar Richard ketika ditemuiKompasTekno di sela-sela gelaran Indocomtech 2012 di Jakarta, November lalu. Saat itu, seri game terbaru yang turut ditangani Richard, Assassins Creed III, memang telah rampung dan baru dirilis ke pasaran.
Soal industri game di Indonesia, Richard mengatakan bahwa sebenarnya terdapat banyak talenta berbakat di Tanah Air. Hanya saja, menurut Richard, di samping belum adanya investor besar yang berani mendanai pembuatan game seperti Assassins Creed, ada hal lain yang sedikit mengganjal kemajuan dunia game Nusantara dalam mengembangkan game berskala besar.
"Banyak yang bagus, tapi kebanyakan dari mereka bergerak seperti pejuang gerilya zaman kemerdekaan, yaitu terpisah-pisah antardaerah. Seandainya saja bisa disatukan, tentu bisa kuat sekali," ujar Richard.
Bagaimana dengan para rekan seprofesi yang memutuskan untuk mengadu nasib di negeri orang, seperti Richard sendiri? Menurut dia, hal tersebut berkaitan dengan besarnya penghargaan atas karya mereka yang bisa diperoleh di luar negeri.
"Namanya juga memenuhi kebutuhan hidup. Di Indonesia banyak talenta pembuat game berkualitas internasional, tapi penghasilannya kurang. Seandainya keadaan itu berubah, pasti semua yang bekerja di luar negeri akan pulang kampung dengan senang hati," tandasnya.
http://tekno.kompas.com/read/2012/12/10/16190686/Orang.Indonesia.di.Balik.Game.Assassins.Creed
Go to link download
Tuesday, December 6, 2016
Nokia 600 Nokia 700 Symbian Belle Harga Indonesia Hp Nokia Terbaru Full Music
Nokia 600 Nokia 700 Symbian Belle Harga Indonesia Hp Nokia Terbaru Full Music
"Nokia 600 adalah smartphone Nokia yang suaranya paling kencang," kata Irwan Hermawan, product manager Nokia. Irwan mengungkapkan, Nokia 600 bisa menghasilkan suara hingga 106 Phons.
Selain itu, smartphone ini juga dilengkapi dengan built in antena radio FM untuk mendengarkan radio tanpa headset serta pemancar musik yang bisa menyiarkan musik dari smartphone ke radio FM. Diperkuat dengan kemampuan 60 jam pemutaran musik dan loudspeaker eksternal yang kuat, smartphone ini cocok bagi para pecinta musik.
Nokia 600 memiliki ukuran layar 3,2 inchi dan dimensi 111 x 53 x 13 mm serta berat 100 gram. Smartphone ini diperkuat dengan prosesor 1 GHz serta didukung memori 2 GB dan kamera 5 MP fized focus dilengkapi LED Flash dengan kemampuan merekam video 720p.
Sementara, untuk Nokia 700, Irwan mengatakan, "Ini adalah smartphone yang paling kecil dan paling compact." Dimensi Nokia 700 hanya 110 x 50,7 x 9,7 mm dengan berat 96 gram. walau ukurannya kecil, smartphone ini cukup bisa diandalkan, diperkuat prosesor 1 GHz dan memori 2GB serta kamera 5 MP fokus penuh dengan LED light.
Nokia 700 berbeda dengan Nokia 600 sebab layar berukuran 3,2 inchi-nya hadir dengan tampilan clear black. Baik Nokia 600 dan Nokia 700, keduanya merupakan smartphone layar sentuh. Sebagai seri smartphone Symbian Belle, dua produk tersebut mengusung salah satu fitur andalan Near Field Communication (NFC).
"Nokia 600 adalah smartphone pertama yang mampu mendukung penuh NFC, baik open NFC maupun secure NFC," kata Irwan. Open NFC menawarkan kemudahan untuk beberapa pemakaian, misalnya transfer foto dan video antar smartphone dengan hanya menyentuhkan satu sama lain, juga memutar musik di speaker yang mendukung NFC juga hanya dalam sekali sentuh. Sementara, secure NFC ke depan bisa digunakan untuk beberapa aplikasi, misalnya untuk pembayaran dan ticketing.
Namun, untuk secure NFC, pengguna Nokia 600 dan 700 harus menunggu update sistem operasi Symbian berikutnya untuk menikmati. Irwan menuturkan, "NFC memang bukan teknologi yang diciptakan Nokia. Tetapi Nokia telah membawa NFC ke market menjadi teknologi yang bisa dinikmati."
Salah satu buktinya, adanya dua aplikasi NFC yang tersedia di Nokia Store. Salah satu aplikasi adalah game Smash Mania dari Agate. Dengan teknologi NFC, game bertema badminton ini bisa dimainkan pengguna dengan mengayunkan smartphone serasa benar-benar bermain bulutangkis.
Aplikasi lain adalah Menoo!, aplikasi bertema resto dan makanan yang memungkinkan pengguna mengetahui restoran terdekat beserta menu unggulannya. Dengan NFC, Menoo! akan mengembangkan Menoo! Tap Tap, di mana pengguna nantinya bisa mendaftar waiting list, memesan menu makanan, dan mengetahui menu favorit hanya dengan tap saja.
Nokia 700 akan tersedia mulai pekan depan dengan harga Rp 3,1 juta. Sementara harga Nokia 600 baru akan hadir Desember nanti dengan harga Rp 2 jutaan.kompas.com
Nokia 600, Spesifikasi Nokia 600, Harga Nokia 700, Spesifiksi Nokia 700, OS Symbian Belle, Harga Nokia 600 di Indonesia, Hp Nokia Terbaru, Full Music, Spesifikasi Ponsel, Update HArga Hp Terbaru
Go to link download
Subscribe to:
Posts (Atom)